Rabu, 11 September 2013

Chamber Music (James Joyce)

James Joyce, Ireland
I

Dawai-dawai di bumi dan udara
Mencipta musik yang manis
Dawai-dawai dari sungai
Di mana pohon-pohon willow bertemu



Musik mengalir di sepanjang sungai
Berharap menemukan Cinta,
Bunga-bunga pucat dalam jubah mereka
Daun-daun teduh di dalam rambutnya.

Segalanya bermain dengan lembut,
Dengan kepala ke dalam musik melenguh,
Dan jemari menjalar
Di atas instrumentalia.

II

Senja memancar dari bebatuan
Kepada kedalaman dan yang lebih dalam,
Lampu-lampu muncul dengan kehijauan
Pohon-pohon di jalanan.

Sebuah piano tua memainkan udara
Lembut dan tenang dan riang;
Perempuan itu meliuk di atas tuts-tuts jingga
Kepalanya menjamah segalanya.

Rasa malu, mata lebar yang menenggelamkan
dan tangan-tangan yang mencari mereka—
Temaram memancar membiru gelap
Dengan cahaya bebatuan.

III

Pada jam itu ketika segalanya terbaring,
O kesepian yang menatap langit,
Kau dengarkah lenguh angin malam
Mendesahkan harpa ke dalam terbukanya Cinta

Gerbang pucat terbitnya matahari?
Ketika segalanya terbaring, sendirikah kau
Terjaga mendengarkan harpa yang manis di mainkan
Untuk Cinta yang telah lalu

Dan angin malam yang sunyi memberi jawab
Hingga malam ini usai?
Mainkanlah, harpa gaib, ke dalam Cinta,
Agar segala yang di surga bersinar

Pada jam itu ketika lembut cahaya datang dan pergi,
Musik manis lembut di udara
Musik manis lembut di bumi.

IV

Ketika malu-malu bintang terdiam di surga
Bagai gadis belia yang sedih
Kau dengarkah dalam kelelahanmu
Seseorang bernyanyi di depan pintumu

Lebih lembut dari embun
Ia datang untuk mengunjungimu.
O lenguhnya menyanjungmu khidmat
Ketika memanggilmu di senja hari.

: siapakah ini yang menyanyikan?
Lagu tentang hatiku yang patah
dengan ini kau tahu, duhai penyanyi kudus,
Akulah yang hadir padamu.

V

Tengoklah lewat jendela,
Rambut emas,
Aku mendengarmu menyanyikan
Udara yang gembira.

Bukuku telah tertutup,
Aku tak lagi membaca
Menatap api menari
Di lantai kejauhan.

Telah kutinggalkan bukuku,
Kutinggalkah kamarku,
Untuk mendengar kau bernyanyi
Menembus kegelapan.

Bernyanyi dan bernyanyi
Udara bergembira,
Tengoklah lewat jendela,
Rambut emas.

VI

Aku ingin ada di dadanya yang cantik
(O betapa manis dan cantiknya ia)
Tak ada angin liar akan datang padaku.
Karena kesedihan yang memberat

Aku akan ada di dadanya yang manis.
Aku akan selalu ada dalam hatinya
(O kelembutan yang kuketuk dengan penuh permohonan)
Di mana hanya kelembutan akan menjadi milikku.

Segala ketegangan akan menjadi lebih manis
Maka aku telah lama dalam hatinya.

VII

Cintaku mengenakan pakaian teranggunnya
Di antara pohon-pohon apel,
Di mana angin gembira dan penuh hasrat
Untuk bergabung bersamanya.

Di sana, angin yang riang mencoba merayu
Daun-daun mungil agar dewasa,
Cintaku perlahan pergi, meliuk
Kedalam bayang-bayangnya di rerumputan;

Dan di mana cangkir langit yang biru
Menangkup benua yang gembira,
Cintaku datang memancar, merengkuh gaunnya
dengan tangannya yang cantik.

VIII

Siapa melangkah di antara pohon hijau
Dengan musim panas menghiasinya?
Siapa melangkah di antara pohon hijau yang gembira
Untuk membuatnya lebih gembira?

Siapa lewat di antara sinaran matahari
Dengan jalan yang diketahui cahaya?
Siapa melewati sinar matahari yang manis
Dengan rupa begitu perawan?

Jalan-jalan setapak di hutan
Bersinar lembut dengan api keemasan—
Untuk siapakah hutan ini memancar
Mengenakan pakaian keberanian?

O, semuanya untuk cinta sejatiku
Pohon-pohon mengenakan pakaian yang berani—
O, semuanya untuk cinta sejati milikku
Ia begitu muda dan menawan.

IX

Angin bulan Mei, menari di atas lautan
Berputar menari-mengelilingi keriangan
Dari samudera-ke samudera, ketika
Buih memancar naik seperti karangan bunga

Gelombang-gelombang keperakan mengalungi udara
Kaulihat cinta sejatiku di mana-mana?
Hari yang menyenangkan! Hari yang menyenangkan!
Duhai angin bulan Mei!

Cinta berduka jika cinta pergi!

X

Muara yang bijak dan aliran-aliran,
Dia bernyanyi dalam kesunyian:
Datanglah, datanglah,
Segala yang kau cinta.

Serahkan mimpi pada pemimpi
Yang takkan pernah berakhir,
Nyanyian dan canda tawa
Akan selalu begitu.

Dengan aliran pita-pita
Dia bernyanyi dengan berani,
Di pundak-pundak prajurit
Dengungan lebah-lebah liar.

Dan waktu bermimpi
Selalu bermimpi—
Seperti pencinta pada pencinta,

Duhai hati yang manis, aku datang.

(diterjemahkan oleh Alfiyan Harfi)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar