Senin, 09 September 2013

Catatan Kecil: Untuk Yang Mati dan Yang Tak Bisa Mati


bahasa ungkap Alfiyan tidak berbelit, pernyataan dan kenyataan yang dibangunnya disodorkan langsung secara telak dan meyakinkan, tidak ada prosedur bahasa yang menggandakan rima dan irama, apalagi bermain ayunan metafora berlama-lama, berumit-rumit, tapi bukan berarti tidak puitik. Dengan cara itu ia justru sangat puitik, hanya saja puitikanya sangat berbeda dengan kebanyakan penyair muda sekarang yang bertaruh pada lenggang-lenggok metafor dan irama yang kenes menggemaskan, jika bukan menjengkelkan. Puitika Alfiyan tidak tergantung pada “lemak bahasa”, melainkan pada “darah-daging bahasa




Dunia kepenyairan memiliki pemaknaan yang kompleks akan mati, dengan segala ambiguitasnya yang tak terperi. Meski dalam kehidupannya yang riil penyair adalah “juga manusia” yang memperjuangkan hidup lebih baik, sehat walafiat, bahagia dan berumur panjang, namun dalam sosoknya yang “eksotik” seorang penyair boleh jadi dekat dengan kematian; digulung insomnia dalam malam-malam panjang, ditemani kopi dan asap rokok yang menari, berjalan ke lorong-lorong pengab, diintai senjata dan mata-mata, diganyang tuak, batuk dan sedikit lagi kutuk: TBC, sipilis-raja singa. Itu semua telah menempatkan sosok penyair dekat dengan tubir kematian, tentu saja. Tapi tidak. Penyair menolak untuk mati, dan jika pun hukum alam dan sunatullah akhirnya membantarkannya ke kematian, itu hanya setingkat jalan yang ia lalui di alam fana—sebagaimana yang lain—sedang jiwa, ruh, nama dan karya-karyanya senantiasa hidup, tetap hidup, seakan abadi, selama-lamanya.
Chairil Anwar sudah lama tiada, tapi nama dan karyanya semakin meng-ada. Ia memang telah menyatakan ingin hidup seribu tahun lagi, meskipun dunia yang fana ini hanya memberi waktu tayang paling lama sekitar seratus tahun saja. Sungguh pun demikian, “seribu tahun” Chairil bukan mengada-ada, dan ia telah membuktikannya. Benarlah yang ditulis Subagio Sastrowardoyo dalam sebuah puisinya bahwa kematian hanyalah selaput gagasan yang gampang diseberangi.
Emha Ainun Nadjib juga punya keyakinan yang sama. Bagi dia, penyair dan puisi tak bisa mati. Tidak jelas benar apa alasan Emha berkeyakinan demikian, namun saya duga ia percaya pada kegaiban (bukan keajaiban). Katanya,”Segala sesuatu yang tidak atau belum kita pahami atau belum kita capai adalah kegaiban. Upaya menjangkau ketidaktahuan selalu menghasilkan halusinasi, pencitraan atau mitologisasi. Daya intelektual terbentur di tembok ketidaktahuan. [penyair] adalah seseosok bayangan yang coba saya tembus dan saya kitari berbekal ketidaktahuan, untuk menghasilkan ketidaktahuan.” (Dunia Semata Wayang, YUI, 1996: vi). Betapapun mungkin ungkapan tersebut dianggap intuitif, tapi cukup berhasil merepresentasikan situasi dunia kepenyairan yang berlapis. Ambigusitas yang tak habis.
Bahkan, jika para aulia dan para wali boleh disejajarkan dengan penyair—setidaknya dalam dakwah kultural—maka tidak berlebihan Abdurahman Wahid (Gus Dur) gemar berziarah kubur, sebab punya keyakinan bahwa orang suci yang mati sesungguhnya tidak mati, ia bisa mendatangkan kharomah bagi orang lain. Bukankah juga demikian dinyatakan dalam kitab suci dan hadist Rasul? Itu pula yang terjadi dalam adat-istiadat di Loloan, sebuah kampung muslim diaspora di Jembrana, Bali Barat, di mana mereka memilki tradisi “berziarah” kepada para tetua, terutama dilakukan oleh pasangan pengantin baru. “Berziarah” bukan ke kuburan atau kepada mereka yang mati, melainkan kepada para tetua yang masih hidup di rumah-rumah panggung. Demikian soal mati dan tidak mati dalam tradisi, kultural dan relegi.
Kematian di dalam sastra, lebih lanjut, dapat kita telusuri dalam cerpen Ben Okri, “Doa dari yang Hidup” (terj. Sapardi Djoko Damono, Kalam, 1999). Cerpen ini mengangkat kisah tentang orang-orang yang sudah mati mendoakan orang yang hidup. Sebab dalam kenyataannya, mereka yang mati karena perang dan kelaparan tampak lebih bahagia dari pada mereka yang hidup—yang bertahan di tengah penderitaan. Atau dalam kalimatnya yang menggetarkan, Ben Okri bilang,”Satu-satunya yang tidak mati adalah semua yang mati.” Tak kalah menggetarkan adalah kalimat Oka Rusmini dalam permulaan novel Tarian Bumi,”Kematianlah yang menghidupkan cerita ini.”
Di dalam dunia kritik, kita mengenal istilah “Pengarang sudah mati” dari Roland Barthes yang kemudian dimaknai dalam berbagai versi oleh para pelaku literatur di negeri ini. Beberapa tentu saja salah kaprah. Namun yang jelas, kematian versi Barthes pun memanggul ambigiusitasnya sendiri; pengarang mati, tapi teksnya justru hidup berbiak dalam interpretasi dan kuasa tafsir yang kian luas; dan untuk itulah pengarang (harus) mati.
Kematian di tangan penyair, dengan segala versi dan variasinya, hanyalah salah satu tema atau pintu masuk untuk menyelami ambigusitas di dalam puisi. Tema lain tentu saja memiliki ambigusitasnya pula, terlebih jika ia berada di dalam puisi, di tangan penyair, yang memang sejak awal dibangun oleh ambigusitas tak terbatas. Tapi memang harus diakui, kematian memiliki ambigusitas yang lebih menggetarkan, beroleh minat yang luas—sebagaimana kita singgung agak panjang lebar di atas—sehingga jika ia jatuh di tangan penyair yang tepat maka kita akan mendapat makna yang berlipat.
Demikianlah, seolah melengkapi panaroma dan pandangan kematian dengan segala ambigusitasnya, Alfiyan Harfi muncul dengan buku puisi perdananya, Untuk Yang Mati dan Yang Tak Bisa Mati (2012). Dari judulnya saja, kita sudah dapat mengendus aroma ambigusitas yang dihembuskan, dan memang itulah tampaknya yang hendak diusung oleh Alfiyan. Akan tetapi sebelum lebih lanjut, saya ingin menambahkan sebuah modus lain untuk memahami penyair ini, yakni dari sisi eleganitas. Ya, bahasa ungkap Alfiyan tidak berbelit, pernyataan dan kenyataan yang dibangunnya disodorkan langsung secara telak dan meyakinkan, tidak ada prosedur bahasa yang menggandakan rima dan irama, apalagi bermain ayunan metafora berlama-lama, berumit-rumit, tapi bukan berarti tidak puitik. Dengan cara itu ia justru sangat puitik, hanya saja puitikanya sangat berbeda dengan kebanyakan penyair muda sekarang yang bertaruh pada lenggang-lenggok metafor dan irama yang kenes menggemaskan, jika bukan menjengkelkan. Puitika Alfiyan tidak tergantung pada “lemak bahasa”, melainkan pada “darah-daging bahasa”.
Di tengah eforia munculnya sajak-sajak yang mengandalkan “lagu”, Alfiyan tampak bersiteguh hati untuk tak jauh-jauh dari kelugasan Chairil Anwar (kecuali dalam sajak “Di Bawah Nama Duka” I-IV); dan dalam konteks kekinian—untuk menunjukkan bahwa ia bukan sosok ahistoris—kita bisa merujuk gaya ungkap dimaksud semisal kepada Faisal Kamandobat dalam Alangkah Tolol Patung Ini (2007). Meski dalam kelugasan sajaknya terkadang kita seperti merasakan sedang membaca sajak terjemahan, dan di bagian lain kalimatnya kadang kurang terkontrol, tapi selalu terasa ada orisinalitas-khas Alfiyan, dan itu sangat menyenangkan. Alangkah nikmat mendapati ungkapan begini rupa: “Aku ingin mengenal bagaimana/Matamu menutup dan menyimpan/mimpi yang kecuali aku/tak seorang pun tahu./” Perhatikan ungkapan “mimpi yang kecuali aku,” yang lahir berkat teknik pemenggalan, sangat menarik dan mengejutkan. Atau pertanyaan dramatik ini, “adakah yang menakjubkan/dan lebih menakjubkan/serupa wajahmu, maut?/” Ungkapan atau kejutan-kejutan seperti ini—dan itu ada di banyak bait—memberi sugesti yang kuat di tengah eleganitas, jika bukan di tangan penyair yang tepat, niscaya bisa jadi “garing”. Dan Alfiyan saya kira tepat berada di tengah situasi itu; terbuka, berterus-terang, tapi tidak kehilangan minat atas misteri keheningan.
Boleh jadi pula ada yang berpendapat bahwa eleganitas dapat mengurangi kadar ambigusitas. Bukankah ungkapan yang lugas dan terbuka cenderung tidak memancing apa-apa yang ada di sebalik bahasa, setidaknya mengurangi minat dan greget untuk menggali lapis makna? Namun saya bisa menyatakan sebaliknya, bahwa ungkapan yang elegan justru lebih mengena sebab ibarat mengail ikan, umpan kita tidak terlanjur habis oleh riak-riak arus, melainkan langsung menuju pusaran. Ambigusitas puisi menurut saya, bukanlah semata perihal “permainan” bahasa, namun juga “kekuatan” bahasa.
***
Untuk Yang Mati dan Yang Tak Bisa Mati. Alih-alih tidak setara—antara yang fana dan abadi—pemaknaan kedua ungkapan ini bagai pedang bermata dua: Pertama, jika kita memaknai mati secara wadag, maka boleh jadi “yang mati” adalah sesuatu yang hilang, pergi, jika tidak lenyap, sebagaimana pemaknaan konvensional kita selama ini. Namun, kedua, jika kita memaknai secara simbolik bahwa “yang mati” sesungguhnya tidak benar-benar mati, maka “yang tak bisa mati” justru menghadapi sakratul-mautnya sendiri, bersitahan di dunia ini, dengan segala sakit dan deritanya, susah-payah untuk tidak mati, alih-alih “syahid”.
Supaya tidak berbelit dalam konteks ini, saya melihat ada kesejajaran makna yang singkron bagi takdir puisi (dan juga penyair) untuk tidak mati. Namun, dengan kecerdasan dan kelincahannya, Alfiyan mencoba menyamarkan kedua ini, membaurkannya, sehingga tantangan kita sebagai pembaca adalah menjernihkan segala yang samar dalam paham penerimaan atas ambigusitas yang disodorkan. Strategi puitik Alfiyan ini saya rasa sangatlah aktual, cara untuk bertahan atau sekedar berkelit dari dunia yang penuh labirin dan simulakra, sehingga antara yang hidup dan yang mati sekali waktu bertemu dalam simpul yang tak terduga. Simak puisi “Peniup Seruling” berikut—dari bait mana judul buku ini dipetik:
setiap kali kuraba dadamu
luka-luka itu terlindungi
oleh letakan tangan juga jiwaku
setiap kali kita berciuman
jiwa kita yang rapuh
bertemu dalam lagu yang sedih
bersamamu serulingku
aku akan terus bernyanyi
akan terus bernyanyi
sampai angin mencatat notasinya
lalu di suatu tempat suatu waktu
akan ia nyanyikan, duka kita
untuk yang mati
dan yang tak bisa mati
Penyamaran antara aku dan kau, antara seruling dan yang memainkan seruling, bukannya membuat objek-subjek mengabur, justru membaur, sebab Alfiyan tahu benar cara menyatukannya pada saat yang tepat dan menjauhkan lagi pada saat yang lain. Setiap kali dada “seruling jelita” teraba oleh si aku, luka-luka terlindungi sebagai sesuatu yang dekat, bahkan setiap kali mereka berciuman; namun terasa sedikit menjauh sebab mereka “bertemu dalam lagu yang sedih”, bukan saja menyiratkan kerapuhan, juga jarak. Namun, bersama seruling si aku terus bernyanyi, sampai di suatu tempat dan suatu waktu ia nyanyikan duka—duka kita—untuk yang mati dan yang tak bisa mati. Ada ode untuk yang mati dan yang tak bisa mati dalam semacam lagu duka, tapi boleh jadi ode itu ditujukan untuk mereka sendiri, sepasang pecinta “yang mati” dan “tak bisa mati”. Siapakah “yang tak mati” dan siapakah yang “tak bisa mati”? Peniup serulingkah, atau justru serulingnya? Dan di mana posisi mereka? Dalam pengertian yang luas, penyairkah “yang mati”, sementara serulingnya (karyanya) “tak bisa mati”, atau sebaliknya?
Di sinilah Alfiyan memberi ruang interpretasi bagi pembaca. Tentu setelah ia menuntaskan tugas puitiknya, sekalipun dalam sebuah sajak pendek seperti dikutip di atas. Namun, cara ia membangun posisi biner antara subjek dan objek terasa unik, tidak saja membaur sekaligus tarik-menarik, melainkan juga soal penyandang status yang bisa berganti tempat; antara keberuntungan dan kemalangan, antara keabadian dan kefanaan. Peralihan status tersebut sepenuhnya berada di pihak pembaca, berdasarkan cara pandang, wawasan puitik atau keyakinan masing-masing. Antara mereka yang konvensional dan mereka yang simbolik, misalnya, akan memberi status berbeda, namun boleh jadi bertemu pada simpul yang sama. Itulah sebabnya, untuk kedua status tersebut yang dipersembahkan sama-sama nyanyian duka—duka kita.
Amsal peniup seruling sangat kuat sebagai perlambang persentuhan manusia dengan hidup dan kematian. Lobang-lobang seruling dekat di ujung jari si peniup, namun seruling tidak akan bersuara “merdu” membawa nyanyian duka kita jika selamanya setiap lobang ditutup atau dibuka. Lobang-lobang itu harus dibuka-tutup dengan ujung jemari yang lincah, mengikuti udara yang berhembus dari nafas sang hidup. Nada tercipta dari peristiwa menutup-membuka, mendekat-menjauh, antara lobang dan jemari. Semuanya membaur (bukan mengabur), tak tahu lagi siapa memainkan siapa, dan itu memang jadi tak penting agaknya.
Penyamaran Alfiyan selanjutnya—demi ambigusitas yang mencerahkan—adalah dengan cara mempertemukan kenyataan yang saling bertolak-belakang. Namun ajaibnya, dengan bahasa ungkap yang elegan, kenyataan itu tidak bertubrukan secara fatal, melainkan memberi aksentuasi yang khas pada ambigusitas. Si aku, misalnya, justru melihat sungai mengalir di balik yang tersembunyi, sehingga wajah dan mata kekasih ia lihat serupa cermin yang murni, serupa keabadian yang jatuh ke dalam waktu (“Kepada yang Tersembunyi”); adakah waktu yang abadi, dan adakah keabadian identik dengan waktu? Entah. Engkau adalah masa lalu (namun) juga masa depan; aku (harus) pergi, tapi (mesti) melewatimu (“Kepada Setiap Mawar”). Siapakah sesungguhnya yang akan bertahan, menyerah, meninggalkan atau ditinggalkan? Kita tak tahu. Sebab bahkan beberapa menit yang indah—atau satu detik—di tangan Alfiyan (alangkah) luas dan abadi; menawarkan kemungkinan-kemungkinan.
Salah satu kemungkinan itu: “tak ada yang membenci atau mencintai/karena di atas jasadku yang kelabu,/mereka taruh setiap cinta dan kebencian./dan ketika aku dikuburkan/semua menjelma abu//” (“Untuk Diucapkan Sebelum Tidur”). Antara cinta dan kebencian saling tarik-ulur, yang dikubur tidak hilang, sekurangnya ia menjelma abu yang menyuburkan (menghidupkan) tunas-tunas baru. Puncak dari penyamaran yang bertolak-belakang ini terlihat dalam sajak “Musafir Senjakala” di mana “yang bertolak-belakang” merupakan satu-kesatuan, penuh, utuh, menyeret kita pada tema besar yang diusungnya.
kau perempuan yang bukan perempuan
manusia yang bukan manusia
hidup di sini, namun tidak di dunia ini
kau melintasi hidupku,
namun waktu tak dapat menangkapmu
kau tiada di sini, di sana dan di manapun.
namun di sini, di sana dan di manapun
aku melihatmu menatapku
dengan mata sebening udara;
menjamah jasad letihku
seperti matahari
dengan jemari yang dingin
senja mengantarku pada makammu,
aku bertanya mengapa kau tinggalkan aku
hingga kini aku pun tak mengerti
mengapa aku masih hidup di sini
Di dalam sajak yang lain, ia berada di posisi liner dengan subjek/objek yang hendak dirangkulnya. Pola ini mengurangi motif penyamaran, namun menariknya, tiap kali ia mencoba berdiri sejajar justru terasa kejar-mengejar antar subjek/objek kian kencang, mengasyikkan, kadang melelahkan, sehingga ambigusitas seolah tak berbatas. Dalam “Ode bagi yang Tak Dikenal” misalnya, dinyatakan: “Aku ingin mengenalmu kian dekat/Hingga aku mengenalmu/Layaknya aku mengenal diriku sendiri.//” begitu seterusnya, kejar-mengejar, timpa-bertimpa.
Dan selalu ada simpul yang menggetarkan:
Aku ingin mengenalmu hingga
Aku mengenal segalanya
Dan setiap bunga nama yang tumbuh
Mengakar padaku memancar padamu
Sebaliknya, dalam sajak “Sepasang Mata”, ganti si aku yang “dikejar” oleh subjek lain, yakni “kau yang menatap asing padaku”, sehingga si aku dengan elegan meluruhkan dirinya dalam lineritas:
perhatikan bayang-bayangmu
tersimpan di kedalaman mataku
bagai cahaya menunjuk pusat kegelapan
apa dan ke mana kau mencari
aku bersemayam di atas matamu
mengikuti bagai arah dan waktu
bila mataku terpejam, kau bersembunyi
menjelma mata air yang mengalir di tubuhku
sebagai kehangatan dan cahaya teduh yang abadi
Alih-alih memungkas ambigusitas, lineritas justru memberi lebih banyak kemungkinan, tidak saja kejar-mengejar antara pernyataan dan kenyataan, juga meluasnya spektrum dan pemaknaan sajak. Salah satu peluangnya adalah terbukanya “plot” sehingga terbangun sajak yang “bercerita” atau sekurangnya naratif. Pola ini cukup banyak ditemukan pada sajak-sajak di pertengahan sampai ke akhir buku, seperti “Bagaimana Mengusir Rayap-rayap dari Meja Kerjaku”, “Malam Desember”, “Nama”, “Suatu Hari dalam Kenangan Pengembara” atau “Perjalanan Sutera”. Begitu pula dalam sajak “Matahari dan Bayang-bayang” ini: “bila kau lihat matahari di kaki langit/maka aku ada di belakangmu/sebagai bayang-bayang//dan bila kau lihat bayang-bayangmu/maka aku adalah matahari/yang menciptanya//” Berbagai contoh masih bisa terus didedah dan dicari untuk menunjukkan bahwa dalam posisi yang bagaimanapun, ambigusitas dan eleganitas menjadi pertaruhan yang cukup meyakinkan di dalam sajak-sajak Alfiyan Harfi; dan semua itu terutama menemukan momentum yang tepat di dalam tema kematian dengan segala potensi dan pesonanya.
Sampai di sini, mungkin terlalu simplistis menganggap bahwa semua sajak Alfiyan bicara tentang maut dan keabadian, namun tak dapat dipungkiri di dalam hampir setiap sajaknya selalu ada soal-soal semacam ini, baik yang dinyatakan secara eksplisit maupun implisit. Ada mawar yang layu tapi diam-diam melahirkan tunas baru; ranting kemarau yang menumbuhkan bunga; rayap-rayap memakan segala dalam diri si aku namun tak menghentikan hasratnya bekerja untuk manusia; ada tatap mata si kecil yang bahagia (justru) karena (ia) tak menyadari kebebasannya; dan begitulah seterusnya, dan beginilah akhirnya: “Bila musim hujan tiba/Dan kita masih muda/Memancarkan gejolak segala/Tak peduli apa-siapa/Bila jalan tergenang mimpi/Memantulkan bayang/wajahku dan wajahmu/“Kita mesti hidup selamanya”//”Kesadaran akan yang fana, memunculkan bayangan pada yang abadi; kesadaran pada yang kekal menyadarkan pada yang sementara; demikianlah kiranya, Yang Mati dan Yang Tak Bisa Mati berkisar di antara kita.*

Raudal Tanjung Banua,
Koordinator Komunitas Rumahlebah Yogyakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar