Senin, 09 September 2013

Catatan Prof. Faruk


Mistisisme dalam Dunia yang Termediasi 
Kesementaraan dan Keabadian 
dalam Puisi-puisi Alfiyan Harfi

Puisi-puisi Alfiyan Harfi dalam kumpulan ini penuh dengan metafora yang mengejutkan, yang mengimplikasikan ketegangan-ketegangan yang ada dalam hubungan antar manusia maupun antara manusia sebagai mahluk yang fana dengan kau sebagai Yang Abadi. Secara keseluruhan, puisi ini bercerita tentang menyatunya yang imanen dan yang transenden sehingga bisa dikatakan bahwa puisi ini bertemakan mistisisme.
Kejutan metaforis dan implikasi mistis itu pertama-tama dapat dilihat dari kecenderungan Alfiyan untuk membandingkan dua hal yang tampaknya tidak bisa dibandingkan, dan kadang-kadang juga menjajarkan dua hal yang tampaknya tidak bisa dijajarkan. Sebagai contoh, dapat dilihat bait pertama dari puisi “Kepada Yang Tersembunyi” di bawah ini.
aku melihat sungai
mengalir di wajahmu
udara adalah kulitmu
dan matamu kulihat
pada segala yang kulihat
serupa cermin yang murni
Baris pertama dan kedua dari kutipan di atas sebenarnya mengandung perbandingan yang metaforis. Hanya saja perbandingan itu tidak bisa langsung terlihat. Yang tampak hanyalah penjajaran dua hal yang seakan tidak berhubungan, yaitu antara sungai dan wajah. Keduanya tidak bisa dibandingkan karena sama sekali tidak ada persamaan antara keduanya. Perbandingan itu hanya bisa kita lihat melalui apa yang diimplikasikannya. Karena sungai mengalir di alam, maka wajah itu sebanding dengan alam. Dengan kata lain, metafora yang diperlihatkan oleh baris satu dan dua di atas merupakan metafora yang berlapis, yang bisa disejajarkan dengan apa yang dalam kebudayaan Jawa disebut sebagai wangsalan..
Perumpamaan seperti ini hampir konsisten terdapat dalam puisi-puisi Alfiyan Harfi. Puisi-puisinya itu menggambarkan adanya lapis-lapis media untuk bisa sampai kepada apa yang sebenarnya (the truth). Kenyataan adanya lapis-lapis media itu berlaku juga pada isi yang diungkapkan oleh metafora-metafora di atas.
Jika kita melihat judul puisi pertama kumpulan puisi ini, maka Alfiyan hendak berbicara tentang kau yang tersembunyi, yang tidak bisa ia lihat. Alfiyan tidak dapat langsung berhubungan dengan kau. Dia hanya bisa melihat, mendengar, dan merasakan keberadaan kau melalui berbagai macam mediasi. Ia melihat kau melalui sungai, udara, bunga, peristiwa, mimpi dan segala hal yang dapat ia lihat. Media itu dia sebut sebagai “cermin murni”, yang artinya bening, yang menggambarkan secara penuh dan sempurna diri kau. Dengan kata lain, di satu pihak kau tidak terlihat, di lain pihak, kau menampakkan diri melalui berbagai mediasi.
Pertentangan antara kau yang tidak menampakkan diri dengan media yang memungkinkan penampakannya itu sejajar dengan pertentangan keabadian dan kefanaan seperti yang terlihat pada bait kedua di bawah ini.
sekali kau berkata padaku
lewat bunga yang mekar
serupa merah bibirmu
serupa keabadian
yang jatuh ke dalam waktu
Keabadian dalam baris keempat di atas sejajar dengan kau yang berkata-kata, sedangkan waktu sejajar dengan media yang memungkinkan kehadiran kau di hadapan aku. Artinya, puisi ini menangkap keabadian dengan mediasi waktu.
Bait berikutnya memperlihatkan kesejajaran pula antara yang dimediasi dan mediasi di atas dengan peristiwa yang belum terjadi dan yang sudah terjadi, dengan masa depan dan masa lalu.
engkau adalah peristiwa
yang runtuh di masa lalu
engkau adalah masa depan
yang menyusup
ke dalam mimpi sadar
Yang belum terjadi dan masa depan adalah yang belum terlihat, atau bahkan tidak terlihat sama sekali seperti halnya juga kau dan keabadian itu, sedangkan yang sudah terjadi dan masa lalu sejajar dengan alam dan media atau segala yang mencerminkan keberadaan kau.
Kesemuanya itu menunjukkan bahwa kehadiran kau di hadapan aku sekaligus bersifat nyata dan tidak nyata sehingga si aku merasa mengalaminya di antara mimpi dan sadar. Bila media itu bening, merupakan cermin murni, maka kehadiran kau bisa dikatakan nyata, utuh tanpa perantara, seolah-olah aku dan kau menjadi sangat dekat. Namun, bait terakhir menunjukkan kau dan aku masih berjarak dan tidak saling melihat sebagaimana terimplikasikan dari kata melewatimu.
dan di mana aku melangkah
melewati hamparan pasir
yang melayang di angkasa
aku pergi melewatimu:
Istilah melewati bisa diartikan terlewatkan, yang implikasinya aku tidak melihat kau. Ada dua kemungkinan faktor yang menyebabkan keberjarakan itu. Pertama, kehadiran kau bagaimanapun tetap melewati media, walau media itu disebut murni atau bening. Baik bening ataupun murni, media tetaplah media, cermin tetaplah cermin. Kehadiran kau hanya bisa melaluinya. Keberadaan media tidak bisa dihapuskan. Dalam kemungkinan ini, kemutlakan keberadaan media itu sejajar dengan kecenderungan melingkarnya metafor yang digunakan. Untuk mencari apa yang dimaksudkan orang harus menempuh jalan melingkar, melalui berlapis-lapis media. Dalam kondisi seperti itu, pertemuan langsung antara aku dengan kau memang tidak mungkin terjadi.
Kedua, keberjarakan itu terjadi akibat si aku terbang ke langit, yang menunjukkan bahwa dia ingin menghapus jarak yang memisahkan dirinya dengan kau. Tindakan itu bertentangan dengan imanennya si kau di dalam alam, yang mengimplikasikan tidak adanya jarak antara kau dan aku. Kalau antara kau dan aku tidak ada jarak, si aku tidak perlu mencarinya di angkasa. Pencarian itu justru mengingkari ketiadaan jarak atau imanensi dari kau di dalam alam seperti yang sudah dikemukakan di awal pembahasan.
Kedua kemungkinan faktor di atas yang menutup kemungkinan terjadinya persatuan langsung antara aku dan kau, antara kesementaraan dan keabadian, merupakan hal yang niscaya bagi kehidupan yang sudah begitu termediasi. Dalam hal ini, sadar atau tidak sadar, Alfiyan Harfi sudah memperlihatkan kepekaannya terhadap kecenderungan dunia masa kini dan mengungkapkannya dalam bentuk yang sesuai dengan metafor-metafor yang melingkar, yang seakan tidak berhubungan satu sama lain.
Faruk

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar